Kura-kura itu pergi. Atau Mati. Setelah dari kamar mandi, sikat gigi, dan tersedak pasta giginya sendiri. Kata Tuhan sebelumnya ia menangis kencang, bahkan Tuhan pun tak dapat menolongnya. Atau mungkin, ia sengaja meracuni pasta giginya sendiri dengan kulit sapi. Hal yang paling ia benci. Tapi kata malaikat yang mencabut nyawanya, ia gembira dan bahagia ketika mau mati. Kata malaikat lagi, memang harapan terakhirnya adalah mati sebelum hari ini. Sungguh kasihan, bahkan harapan terakhir hidupnya memilukan. Tapi dia bahagia dengan keputusannya. Bukan keputusannya, meski membunuh dirinya sendiri, perkara mati katanya sudah diatur oleh Tuhan, jadi kataku ia tidak mati bunuh diri. Ia hanya mati sendiri.
Thursday, 26 July 2018
Saturday, 7 July 2018
Kata Kila
Ini tentang dia yang kesepian di peraduan. Dia yang sendirian dan kesepian. Ia sendirian. Satu hal yang membuatnya selalu sendirian. Iya. Dia mencintai kesepian. Kesepian dan kesendirian. Sampai suatu saat, ketika ia kembali dari peraduan lain, ia menunduk dan duduk sendirian, di tepian jalan. Sendirian. Katanya, kalau aku tak salah dengar, pernah suatu ketika ia harus bersandar, lalu ia segera tersadar bahwa bersandar adalah hal menyebalkan dan memalukan. Lalu ia tiduran, di bebatuan. Dan, memilukan. Karena kebiasaan, ia jadi lupa cara bersandar. Ia lupa bagaimana berbagi derita dan duka. Ia bahkan lupa kapan dan kepada siapa terakhir kali ia berharap. Ia mencukupkan diri hanya dengan mencintai dirinya seorang diri. Seorang diri. Sendirian lagi.
Di rumahnya. Ia menangis sendiri. Membenci sendiri. Dan, bahagia sendiri. Dia Kila. Gadis manis yang iri pada kura-kura. Namun, ia terlalu kuat untuk disebut sebagai seorang gadis. Tapi terlalu rapuh pula menjadi seorang gadis. Ia kesepian. Sendirian. Katanya, kalau aku tidak salah dengar lagi, betapa beruntung kura-kura yang selalu tahu kemana ia harus sembunyi ketika terisak, sedang Kila hanya dapat duduk di tepian jalan sambil menengadah ke langit biru, menepuk dada yang terluka. Sendirian. Kesepian. Kata Kila lagi, sesungguhnya ia benci sendirian, ia benci kesepian, tapi ia terlanjur lupa bagaimana cara berbagi, lalu pada siapa ia harus kembali. Tidak ada penerimaan lagi, katanya. Kata Kila, perkara cita-cita, ia ingin mati sendirian, mati kesepian, di lautan, di pegunungan, atau di mana saja, asalkan mati muda. Kata Kila, ia terlanjur berteman sepi dan kesepian. Pagi ini, kata Kila, ia tersadar satu hal, ia benar-benar kesepian, di tepian jalan, dan berharap ditemukan.
Thursday, 5 July 2018
Diperjalanan
Subscribe to:
Comments (Atom)
